Just another WordPress.com weblog

Jembatan Bab Mekah/Kandarah-Tempat Kaburan TKI di Jeddah

Gambaran para TKW di bawah Jembatan layang Kandarah menunggu jemputan petugas imigrasi


Lihatlah saudara-saudara kita terlunta dan terlantar di Jeddah ini


Ada banyak alasan seorang tenaga kerja Indonesia tidak betah bekerja di majikannya. Mulai dari kekerasan domestik, tidak digaji, atau mungkin tergiur bekerja di tempat lain yang memiliki gaji yang lebih tinggi. Dan mereka memilih untuk kabur ke tempat lain. Jika bernasib baik, banyak sekali orang-orang non  saudi atau bahkan orang saudi sendiri yang menampung mereka. Mungkin mereka tidak mau repot dan sedikit berhemat, karena tidak perlu membayar visa dan tiket pulang pergi orang-orang kaburan tersebut.

Inilah akhirnya yang membuat para tkw, dan tki kita lebih suka untuk memilih kabur dari majikan asli  jika ada masalah. Karena digaji lebih besar, contohnya untuk pembantu rumah tangga, aslinya hanya bergaji 800 riyal, jika kaburan gajinya bisa mencapai 1200 riyal dan tidak terikat untuk tinggal di tempat majikan yang baru, atau dia bisa jadi pembantu lepas, bekerja untuk beberapa rumah tangga untuk sekedar bersihin rumah & mencuci. Untuk sopir, mereka bisa menyewa mobil untuk kemudian jadi jemputan anak-anak atau majikan di beberapa rumah tangga sekaligus, sebulan mereka bisa meraup 4000 riyal dengan hanya menyewa mobil 1000 riyalnya.

Jika mereka memilih untuk pulang ke Indonesia, mereka tinggal di tenda-tenda di kolong-kolong kubri (jembatan) di daerah Bab Mekkah/Jembatan Kandarah dekat area pertokoan Corniche balad (yang sering jadi jujugan jamaah haji&umroh Indonesia). Untuk kemudian dijemput oleh polisi-polisi imigrasi Saudi

Kita bisa lihat ratusan orang sengaja berjejer di jembatan Kandarah agar dijemput oleh pihak imigrasi. Karena untuk pulang ke negaranya masing-masing mereka tidak dipungut biaya tiket pesawat,alias gratis dari pemerintah Saudi
MasyaAllah……ngenes lihatnya, bau pesing,orang tidak mandi & bau2 lainnya. Bayangkan ratusan orang berdesakan di bawah jembatan dengan berbagai masalah yang membelit mereka. Ada yang membawa bayi ( ada yang anak hasil menikah antara sesama TKI & ada pula yang karena diperkosa majikannya )
Untuk mempercepat pengurusan agar mereka bisa pulang ke Indonesia ada yang bayar 300-750 riyal,dibayar ke oknum tarhil (imigrasi) lewat perantara orang kita (indonesia) sendiri, jadi ada juga mafia disini.

Proses deportasi inilah menjadi cara terakhir yang dipilih oleh para tki kita jika mereka memilih kabur.

Oh iya, jika mereka masih mau bekerja di Saudi, para kaburan ini sering sekali menyewa satu flat untuk ditempati bersama. Kami sering menyebutnya dengan “penampungan”. Banyak sekali wanita-wanita disini  yang bekerja menjadi pembantu lepas, atau hanya menunggu sang lelaki (biasanya para sopir) menikahinya,sehingga fenomena nikah kontrak disini begitu banyak. Hanya untuk memuaskan seks,setelah pulang ke indonesia, tidak ada ikatan lagi.

Beberapa hari yang lalu, ada orang Indonesia tertangkap basah menjadi mucikari tkw. Setelah polisi menggerebek mereka kedapatan transaksi dengan seorang Bangladesh. Akhirnya si tki dan tkw, tidak hanya ditahan tapi juga dihukum cambuk. Seminggu 3 kali cambukan, sampai 3 bulan.

Aku pernah sekali ke tempat penampungan semacam ini bersama beberapa teman. Aku prihatin sekali dengan tkw-tkw ini. Jauh-jauh dari Indonesia agar bisa mendapatkan penghasilan yang layak, tapi disini mereka tak berdaya dengan keadaan atau bahkan memang mereka sengaja sendiri melakukan ini. Akhirnya mereka banyak yang terjerumus ke dalam perzinahan dan kawin kontrak. Sangat berbahaya kalau kita kedapatan berkumpul antara laki-laki dan perempuan bukan muhrim, hukumannya cambuk. Bahkan yang lebih memprihatinkan, tkw kita terkenal bisa “dipakai” dengan membayar sejumlah uang.

Aku jadi ingat akan cerita ibuku sendiri yang pernah menjadi tkw disini, kabur dari majikan karena tidak digaji 3 bulan, bergelantungan dari gedung tinggi. Alhamdulillah waktu itu,pihak konsulat membantu dengan meminta pertanggungjawaban sang majikan dan mencarikan kafil (majikan) baru.

Sungguh, masih banyak pekerjaan rumah buat pemerintah untuk melindungi para tenaga kerja kita di luar negeri. Apapun jenis kesalahan mereka, tetap harus mendapatkan keadilan dan perlindungan dari pemerintah juga. Sangat sulit sekali mengontrol mereka karena kebanyakan bekerja di sektor informal yang notabene jauh dari perlindungan hukum tenaga kerja Arab Saudi.

Saya menyarankan,supaya untuk sementara pemerintah Indonesia menghentikan sementara pengiriman TKW ke Arab Saudi,sampai didapatkan persetujuan bersama mengenai perlindungan2 terhadap para TKI/TKW.
Jangan takut kalau pihak Saudi menghentikan selamanya pemberian visa kerja ke Indonesia, karena Saudi sangat-sangat membutuhkan TKI/TKW dari Indonesia, alasannya:
1. Karena orang-orang Saudi lebih memilih pembantu dari Indonesia karena harganya lebih murah dari Philipine, rate pembantu asal Indonesia cuma 800 riyal/bulan,bandingkan dengan Philipine yang bisa mencapai 1500/bulan. Perlu diingat,pembantu disini kebanyakan dari Indonesia,Philipine,Srilanka dan Sudan. Karena pembantu asal Indonesia dikenal gampang diperintah,gak neko-neko dan bersih
2. Pemerintah Saudi menghentikan pemberian visa ke Bangladesh untuk sementara waktu,karena mereka sering melakukan tindak kriminal disini.
3. Untuk sopir,orang Saudi lebih memilih orang Indonesia karena tidak ugal-ugalan seperti sopir dari India atau Pakistan, kalau dari Philipine mahal.

Saya sangat mengharapakan Menteri Tenaga Kerja sekarang untuk lebih berani menghentikan pengiriman TKW ke Arab Saudi,sambil menunggu persetujuan kedua belah pihak.
Kalau di Kuwait,Jordania bisa. Harusnya bisa juga disini, ini demi keselamatan dan kesejahteraan para TKW/TKI
Masak dari tahun 1982,sejak ibu saya menjadi TKW sampai sekarang,gaji TKW tetap 800riyal. Gak berkembang sama sekali

9 responses

  1. umm mariam

    ya Allah kasian bgt yah, semoga sabarnya di tingkatkan Allah SWT, saya udah ampir 5 tahun di saudi (ikut suami) kadang ngenes bgt denger cerita tentang tkw yang nasibnya gak bagus, tapi allhamdulillah banyak juga kok tkw kita yang bernasib baik, bisa pergi haji, dapet majikan yang baik, pemerintah diperhatiin donk nieh nasib PAHLAWAN DEVISA kita, heran deh tuh orang2 dpr kerjaannya cuma melancong sana/sini, rapat pada tidur, denger cerita rakyat susah sok gak mau tau, emang udah mati rasa nieh pejabat2 indonesia . audzubillah

    Oktober 24, 2010 pukul 9:44 am

    • Dedik Setiawan

      Yah…begitulah ukhti…..
      Semua merasa sudah melindungi, dilain pihak, kejadian seperti ini masih kerap terjadi
      Karena budaya & hukum disini yang masih seperti sistem perbudakan
      Tapi harusnya BNP2TKI menyediakan crisis center di tiap negara tujuan tenaga kerja Indonesia, tidak mengandalkan orang-orang konsulat atau kedutaan yang sudah “cukup” banyak kerjaan.

      Oktober 24, 2010 pukul 11:37 am

  2. mantab banget broo karya nya selalu semangat demi teman tema dan saudara kita yang bawah jembatan layang by wwww setuju banget.com

    Desember 11, 2010 pukul 12:17 am

  3. ivo ahmad

    assalamu’alaikum wr.wb.

    sebelumnya, senang menjumpai alamat anda di sini. salam kenal akhi.
    ingin rasanya sedikit sharring, dan mohon di koreksi, semoga bisa menjadi bahan pembelajaran dan diskusi kita semua.

    berbicara mengenai Buruh Migran Indonesia sangat menarik, bukan hanya yang sukses, yang terlantar, berkasus, bahkan sampai meninggalpun.
    bangga ataupun tidak.. pekerjaan itu telah ada sejak puluhan tahun lalu… sampai sekarang, dan turun temurun.
    selain tren bekerja untuk mencari penghidupan yang lebih layak dan bisa beribadah dengan mudah [seperti di negeri arab misalnya] tentu saja, faktor utama ”keterpaksaan BMI adalah karena tidak adanya lapangan pekerjaan di negeri ini, apalagi yang bisa dikatakan layak dan lebih layak.

    arab saudi menjadi negara penerima terbesar setelah malaysia, besar pula permasalahan yang dialami oleh kawan2 kita di arab dan tanpa penyelesaian yang melegakan pihak korban. atau bahkan ganti rugi.
    menurut saya, memang benar bukan hanya tanggung jawab pemerintah segala problem yang terjadi di berbagai negara penempatan [termasuk arab].
    tanggung jawab keluarga, si BMI bahkan masyarakat luas di Indonesia pula.

    buruh migran indonesia terkenal loyal, penurut, bersih, rajin, tidah suka membantah dan masih banyak lagi karakter bawaan yang turun menurun.
    maka negara penempatan manapun suka menerima keberadaan BMI. bahkan lebih memilih BMI daripada buruh dari negara lain, untuk di pekerjakan. saya setuju dengan pendapat anda.
    saya juga akan sangat setuju dan bahagia apabila para buruh migrant indonesia dan masyarakat indonesia secara luas bisa menempatkan karakter mulia dan apiknya dengan benar, jangan sampai disalah artikan apalagi disalah gunakan.

    saya ingin berpendapat, sudah selayaknya buruh migran indonesia diberi hak2nya sebagai buruh internasional yang mempunyai jam kerja yang di atur,
    Rosulullah SAW, sendiri mencontohkan 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk beribadah, selebihnya untuk beristirahat, negara islam sebesar arab seharusnya menjadi contoh, bagaimana menerapkan hal2 penting semacam itu.
    bisa menikmati hari libur tiap ahad atau hari yg dipilih setiap 7 hari sekali, hari libur nasional, cuti, kebebasan berserikat dan berorganisasi. menyetarakan hak asasi manusia, dimanapun itu tetap harus di junjung tinggi. jangan sampai dianggap sebagai budak dan bisa di peras habis2an tenaganya dan bisa pula di perlakukan semena2.
    karna bagaimanapun, pembantu, babu, prt, sopir, buruh kasar, cecenguk, atau apapun istilahnya adalah tetap manusia dan sama halnya dengan majikan, hanya perbedaan istilah, akan tetapi hakekatnya saling membutuhkan, dan harus saling menghormati.

    sangat menyedihkan apabila phlawan devisa, yang seharusnya di jaga dan di hormati [tapi sebenarnya... kawan2 buruh migrant indonesia tidak ada yang gila sampai minta di hormati dan di elu2kan selayaknya ''pahlawan''. dihargai hak2nya, itu saja].
    kenapa sampai ada perbedaan pada soal gaji? kenapa sampai tidak ada hak2 lain yang diberikan..? padahal pekerjaan sama, bahkan lebih kotor, berbahaya, dan jam kerjanya lebih panjang. ironisnya arab saudi pun tidak ada dalam daftar MoU [memorandum of understanding] yang seharusnya ada, karna itu menjadi suatu kewajiban negara manapun untuk mengadakannya, seperti tertuang dalam pasal di dalam undang-undang ketenaga kerjaan indonesia no 39 tahun 2004.

    kenapa sampai indonesia berani mengirimkan buruh2nya ke arab saudi tanpa ada perlindungan dan aturan2 yang jelas dan transparan sampai buruh2nya tau hak2 mereka, bukan hanya kewajiban saja. apalagi tidak ada jaminan perlindungan dan kontrak yang jelas jaminan dari pemerintahan indonesia..?
    kenapa setelah puluhan tahun lamanya bahkan dari tahun 1980-an buruh indonesia sudah dikirim ke arab, sampai sekarang belum juga ada bentuk2 perlindungan nyata? apalagi yang tertuang sampai ke bentuk undang2..?

    apakah pemerintahan negeri kita tercinta ini lebih memprioritaskan target pengiriman yang bisa di setir dan menggenjot keuntungan yang sebanyak2nya yang dipikirkan? kalau saya pikir, memang benar. iya.
    saya tidak akan menyinggung peran pjtki di sini, ataupun agen2 di arab.
    karna, tugas utama dari pemerintahlah yang seharusnya bisa melindungi warga negaranya sendiri, dimanapun rakyatnya berada. tanpa memandang, apakan ia berdokumen ataupun tidak. [akan menjadi bahan diskusi panjang, ketika kita mengklaskan buruh migran itu ilegal ataupun tidak ^__^].

    BMI yang menelantarkan dirinya di kolong jempatan saya rasa juga bukan kehendak murni dari mereka, anda mungkin sependapat juga..?
    mereka memimpikan kerja yg layak, dan dihormati syukur2 dapat majikan yang baik dan memberi hak2 mereka. sekali lagi, permintaan kawan2 di kolong jempatan kandarah, saya pikir tidak muluk2.
    sama seperti halnya saya ataupun anda.
    toh mereka tidak akan sampai di arab sana tanpa cop dari imigrasi di indonesia, meski prakteknya mereka menggunakan visa umroh, visa turis. padahal akan dipekerjakan sebagai buruh di sana. dan pjtki melakukan, dam pemerintah indonesia menghalalkan.

    sekalipun pemerintah menghentikan pengiriman sementara ke arab, buruh indonesianya, apabila dengan visa umroh, visa turis, dan bukan visa pekerja. siapa yang melarang..? loloslah kawan2 ke arab, untuk bekerja.

    sudah menjadi keharusan warga negara dilindungi oleh pemerintahannya dimanapun ia berada.
    termasuk membantu mempermudah proses memulangkan kawan2 yang terlantar di kolong jembatan kandarah tanpa biaya sepeserpun.

    saya sering bertanya2… kemanakah larinya tanggungan asuransi yang sudah kawan2 buruh migran bayarkan sebesar Rp.400.000,-/orang dan juga pungutan dari pemerintah sebesar US$ 15/orang pula yang masuk ke pendapatan negara bukan pajak?
    saya jadi tidak percaya, apabila di tiap2 perwakilan negara Republik Indonesia ini kekurangan dana untuk membantu buruh migran yang kurang beruntung.

    wassalamu’alaikum

    ivo ahmad

    Januari 24, 2011 pukul 1:33 pm

    • Dedik Setiawan

      itulah tugasnya Migrant Care untuk terus mengoreksi pemerintah, sedang kami blogger memberitakan apa yang kami lihat disini
      Dan saran saya, lebih baik hentikan dahulu pengiriman TKW ke negara Arab saudi sebelum ada MOU yang benar2 melindungi BMI, sering saya dapat keluhan dari teman2 Indo disini tentang ketidak adailan dan pelecehan, beritanya dah banyak.
      Mudah2an ada goodwill dari Depnaker,BNP2TKI, dan kedutaan dan konjen di arab saudi, bahwa mereka harus tetap di posisi para tki, meskipun mereka juga salah
      Contoh kedutaan Amerika, mereka akan berjuang melindungi warga negaranya meskipun dia dalam posisi sebagai terdakwa atau dipersalahkan

      Januari 25, 2011 pukul 2:29 pm

  4. ikhwan

    sejak tahun 80-an pemerintah Suharto menjual rakyat indonesia, 10 tahun pertama masa pemerintahannya tak nampak korupsinya tapi jangan salah perkepala TKI yang dikirim ia mendaparkan 1 dollar,….

    Agustus 31, 2011 pukul 10:41 pm

    • Dedik Setiawan

      jangan su’udzon…..bisa jadi informasi itu salah

      September 9, 2011 pukul 2:51 am

  5. Ujang

    Nasib pk’x di saudi itu. .kbtulan saya nasib buruk…hehehe, mati mati lah . .

    September 23, 2011 pukul 11:15 am

  6. y ammuuuun fada sabaaaaar ok

    Mei 11, 2014 pukul 8:29 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.