Just another WordPress.com weblog

Arab Saudi Masih Ranking Satu, Simpan Permasalahan TKI

Republika OnLine » Breaking News » Internasional
Kamis, 19 Agustus 2010, 15:59 WIB

para tkw yg kabur dari majikan

para tkw yg kabur dari majikan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Arab Saudi masih menjadi daerah penempatan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang menyimpan banyak masalah. Hingga Juli 2010, jumlah kepulangan TKI bermasalah dari Arab Saudi menduduki peringkat pertama dengan 16.170 kasus.

Peringkat kedua ditempati oleh Uni Emirat Arab dengan jumlah kepulangan TKI bermasalah sebanyak 3.310 kasus. Selanjutnya adalah Taiwan (1.938 kasus), Singapura (1.788 kasus), dan Jordania (1.434 kasus).

Dari data TKI bermasalah di Arab Saudi, PHK sepihak masih menjadi kasus terbanyak, yaitu 5.330. Jumlah tersebut terpaut sedikit dengan angka TKI yang sakit akibat kerja sebanyak 4.222 kasus. Penganiayaan TKI pun masih tinggi, yakni 1.274 kasus.

Sementara itu, pada 2009 jumlah TKI bermasalah dari Saudi Arabia 23.770. Tempat berikutnya diduduki masing-masing oleh Uni Emirat Arab (3.668), Taiwan (3.496), Kuwait (2.602), dan Singapura (2.526).

“Jumlah TKI bermasalah memang terus meningkat,” kata Ketua Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan TKI (BNP2TKI), Jumhur Hidayat di Terminal 4 Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Kamis (19/8).

Pengawasan terhadap perusahaan jasa TKI (PJTKI) masih sangat lemah. Hal tersebut terjadi karena adanya dualitas lembaga yang mengurusi TKI, BNP2TKI dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans).

Jumhur mengatakan, sesuai dengan UU No 39/2004, pihak yang mengurusi permasalahan TKI adalah BNP2TKI. Berdasarkan pasal 95, BNP2TKI berfungsi melaksanakan kebijakan di bidang penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri. Namun saat ini, BNP2TKI menangani sebagian wilayah penempatan, seperti Selandia Baru, Hong Kong, Taiwan, dan beberapa daerah di Timur Tengah.

Saat ini, UU tersebut sedang menjalani revisi oleh DPR. Jumhur berharap, para anggota DPR dapat menyelami permasalahan TKI secara benar. Dia mengatakan, seharusnya memang hanya satu lembaga yang mengatasi permasalahan TKI.

Salah seorang TKI asal Cianjur, Nur Hayati (42 tahun), mengaku menjadi salah satu korban penganiayaan majikannya di Saudi Arabia. Akibatnya, dia mengalami memar di bagian leher. “Waktu itu saya didorong dari belakang, akibatnya saya jatuh dari tangga,” ungkapnya kepada wartawan.

Tak hanya itu, Nur juga mengaku sering telat menerima gaji. “Terakhir gaji saya tak dibayarkan sebanyak 300 real,” katanya. Karena tak betah dengan perlakuan majikannya itu, dia pun memilih pulang ke kampung asalnya di Cianjur.

Sementara itu, moratorium nampaknya mempengaruhi jumlah TKI bermasalah. Tercatat di dua negara, yakni Malaysia dan Kuwait, angka TKI bermasalah tidak cukup tinggi. Di Malaysia tercatat 990 kasus. Sedangkan di Kuwait, tercatat terdapat 1.429 kasus.

Sebelumnya, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar mengatakan, moratorium dilakukan untuk mengurangi jumlah TKI bermasalah. Saat ini, pemerintah telah menetapkan moratorium untuk tiga negara penempatan TKI, yakni Malaysia, Kuwait, dan Jordania.

3 responses

  1. assalamualaikum… kpd aparat (bnp2tki) …kasian pa jumhur sodara2 kita di arab saudi terlantar,menangis,ke pedihan yg di rasakanya di bawah jembatan,menungu ber minggu2,ber bulan2 tak kunjung pulang ke tanah air…coba tangani dengan tuntas jangan hanya duduk tersenyum…jangan pura2 dungu
    terima kasih…wassalam

    November 15, 2010 pukul 8:51 am

    • Dedik Setiawan

      Wa’alaikum salam wr wb

      Mudah2an persoalan tkw2 ini bisa beres ya mas
      Kalau enggak mendingan distop dulu deh, seperti di Malaysia, supaya pemerintah Indonesia menekan Saudi untuk tanda tangan MOU dulu
      agar tenaga kerja Indonesia benar2 terlindungi

      November 24, 2010 pukul 11:06 pm

  2. ivo ahmad

    assalamu’alaikum wr.wb.

    sebelumnya, senang menjumpai alamat anda di sini. salam kenal akhi.
    ingin rasanya sedikit sharring, dan mohon di koreksi, semoga bisa menjadi bahan pembelajaran dan diskusi kita semua.

    berbicara mengenai Buruh Migran Indonesia sangat menarik, bukan hanya yang sukses, yang terlantar, berkasus, bahkan sampai meninggalpun.
    bangga ataupun tidak.. pekerjaan itu telah ada sejak puluhan tahun lalu… sampai sekarang, dan turun temurun.
    selain tren bekerja untuk mencari penghidupan yang lebih layak dan bisa beribadah dengan mudah [seperti di negeri arab misalnya] tentu saja, faktor utama ”keterpaksaan BMI adalah karena tidak adanya lapangan pekerjaan di negeri ini, apalagi yang bisa dikatakan layak dan lebih layak.

    arab saudi menjadi negara penerima terbesar setelah malaysia, besar pula permasalahan yang dialami oleh kawan2 kita di arab dan tanpa penyelesaian yang melegakan pihak korban. atau bahkan ganti rugi.
    menurut saya, memang benar bukan hanya tanggung jawab pemerintah segala problem yang terjadi di berbagai negara penempatan [termasuk arab].
    tanggung jawab keluarga, si BMI bahkan masyarakat luas di Indonesia pula.

    buruh migran indonesia terkenal loyal, penurut, bersih, rajin, tidah suka membantah dan masih banyak lagi karakter bawaan yang turun menurun.
    maka negara penempatan manapun suka menerima keberadaan BMI. bahkan lebih memilih BMI daripada buruh dari negara lain, untuk di pekerjakan. saya setuju dengan pendapat anda.
    saya juga akan sangat setuju dan bahagia apabila para buruh migrant indonesia dan masyarakat indonesia secara luas bisa menempatkan karakter mulia dan apiknya dengan benar, jangan sampai disalah artikan apalagi disalah gunakan.

    saya ingin berpendapat, sudah selayaknya buruh migran indonesia diberi hak2nya sebagai buruh internasional yang mempunyai jam kerja yang di atur,
    Rosulullah SAW, sendiri mencontohkan 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk beribadah, selebihnya untuk beristirahat, negara islam sebesar arab seharusnya menjadi contoh, bagaimana menerapkan hal2 penting semacam itu.
    bisa menikmati hari libur tiap ahad atau hari yg dipilih setiap 7 hari sekali, hari libur nasional, cuti, kebebasan berserikat dan berorganisasi. menyetarakan hak asasi manusia, dimanapun itu tetap harus di junjung tinggi. jangan sampai dianggap sebagai budak dan bisa di peras habis2an tenaganya dan bisa pula di perlakukan semena2.
    karna bagaimanapun, pembantu, babu, prt, sopir, buruh kasar, cecenguk, atau apapun istilahnya adalah tetap manusia dan sama halnya dengan majikan, hanya perbedaan istilah, akan tetapi hakekatnya saling membutuhkan, dan harus saling menghormati.

    sangat menyedihkan apabila phlawan devisa, yang seharusnya di jaga dan di hormati [tapi sebenarnya… kawan2 buruh migrant indonesia tidak ada yang gila sampai minta di hormati dan di elu2kan selayaknya ”pahlawan”. dihargai hak2nya, itu saja].
    kenapa sampai ada perbedaan pada soal gaji? kenapa sampai tidak ada hak2 lain yang diberikan..? padahal pekerjaan sama, bahkan lebih kotor, berbahaya, dan jam kerjanya lebih panjang. ironisnya arab saudi pun tidak ada dalam daftar MoU [memorandum of understanding] yang seharusnya ada, karna itu menjadi suatu kewajiban negara manapun untuk mengadakannya, seperti tertuang dalam pasal di dalam undang-undang ketenaga kerjaan indonesia no 39 tahun 2004.

    kenapa sampai indonesia berani mengirimkan buruh2nya ke arab saudi tanpa ada perlindungan dan aturan2 yang jelas dan transparan sampai buruh2nya tau hak2 mereka, bukan hanya kewajiban saja. apalagi tidak ada jaminan perlindungan dan kontrak yang jelas jaminan dari pemerintahan indonesia..?
    kenapa setelah puluhan tahun lamanya bahkan dari tahun 1980-an buruh indonesia sudah dikirim ke arab, sampai sekarang belum juga ada bentuk2 perlindungan nyata? apalagi yang tertuang sampai ke bentuk undang2..?

    apakah pemerintahan negeri kita tercinta ini lebih memprioritaskan target pengiriman yang bisa di setir dan menggenjot keuntungan yang sebanyak2nya yang dipikirkan? kalau saya pikir, memang benar. iya.
    saya tidak akan menyinggung peran pjtki di sini, ataupun agen2 di arab.
    karna, tugas utama dari pemerintahlah yang seharusnya bisa melindungi warga negaranya sendiri, dimanapun rakyatnya berada. tanpa memandang, apakan ia berdokumen ataupun tidak. [akan menjadi bahan diskusi panjang, ketika kita mengklaskan buruh migran itu ilegal ataupun tidak ^__^].

    BMI yang menelantarkan dirinya di kolong jempatan saya rasa juga bukan kehendak murni dari mereka, anda mungkin sependapat juga..?
    mereka memimpikan kerja yg layak, dan dihormati syukur2 dapat majikan yang baik dan memberi hak2 mereka. sekali lagi, permintaan kawan2 di kolong jempatan kandarah, saya pikir tidak muluk2.
    sama seperti halnya saya ataupun anda.
    toh mereka tidak akan sampai di arab sana tanpa cop dari imigrasi di indonesia, meski prakteknya mereka menggunakan visa umroh, visa turis. padahal akan dipekerjakan sebagai buruh di sana. dan pjtki melakukan, dam pemerintah indonesia menghalalkan.

    sekalipun pemerintah menghentikan pengiriman sementara ke arab, buruh indonesianya, apabila dengan visa umroh, visa turis, dan bukan visa pekerja. siapa yang melarang..? loloslah kawan2 ke arab, untuk bekerja.

    sudah menjadi keharusan warga negara dilindungi oleh pemerintahannya dimanapun ia berada.
    termasuk membantu mempermudah proses memulangkan kawan2 yang terlantar di kolong jembatan kandarah tanpa biaya sepeserpun.

    saya sering bertanya2… kemanakah larinya tanggungan asuransi yang sudah kawan2 buruh migran bayarkan sebesar Rp.400.000,-/orang dan juga pungutan dari pemerintah sebesar US$ 15/orang pula yang masuk ke pendapatan negara bukan pajak?
    saya jadi tidak percaya, apabila di tiap2 perwakilan negara Republik Indonesia ini kekurangan dana untuk membantu buruh migran yang kurang beruntung.

    wassalamu’alaikum

    ivo ahmad

    Januari 24, 2011 pukul 1:31 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s